Bringing the Bestin the Child, Memunculkan yang Terbaik dalam Diri Anak
(Bringing the Best in the Child, Memunculkan yang Terbaik dalam Diri Anak.
Dikutip keseluruhan dari halaman: 41-87)
1
MEMUNCULKAN YANG TERBAIK DALAM DIRI ANAK
“Pendidikan yang tertinggi adalah, bukan yang memberi
informasi belaka namun yang membuat hidup kita
selaras dengan semua makhluk.”
Rabindranath Tagore
Tragedi terbesar saat ini adalah, pendidikan telah menjadi komoditas. Layaknya barang atau komoditas perdagangan – pendidikan pun diperjualbelikan. Dan, kalau sudah menyangkut jual-beli, maka kita tidak bersaing dengan penjual lain yang menawarkan produk serupa. Kompetisi tidak sehat ini telah melahirkan sejumlah sekolah. Ada sekolah yang “dibangun” secara eksklusif bagi si kaya, ada pula sekolah yang dibangun bagi si miskin, dan yang jumlahnya paling besar, bagi mereka yang ada di tengag-tengah, sekolah untuk yang biasa-biasa saja.
SETELAH MEMPELAJARI SISTEM EDUKASI DAN SEKOLAH YANG ADA SEKARANG saya merasa sangat, sangat sedih bahwa tujuan pendidikan – “untuk apa” mendidik – telah hilang, benar-benar terlupakan.
Pendidikan, seperti yang kita semua tahu, dimaksudkan untuk “memunculkan yang terbaik yang ada dalam diri anak”. Tapi, apa yang terbaik yang ada dalam diri anak itu? Ya, yang ada “dalam diri” anak, bukan “dari seorang” anak.Yang terbaik dari “dalam diri” anak tidak ada kaitannya dengan potensi bawaan seorang anak. Hal terbaik dalam diri anak sama halnya seperti…
YANG TERBAIK YANG ADA DALAM DIRI MANUSIA ini tidaklah sama seperti “potensi tersembunyi” dalam diri anak yang kelak membuatnya menjadi dokter yang baik, insinyur yang masyhur, penulis produktif, politisi yang waras, atau seorang professional sukses di bidang tertentu. Profesi dan kesuksesan semacam itu hanya membuatnya layak disebut anggota masyarakat dan memastikan hidup mereka berkecukupan.Kesuksesan materi dan pencapaian semacam itu bukanlah “yang terbaik” yang bisa dicapai oleh manusia dan dari diri manusia.
Coba renungkan…
Apa hal terbaik yang Anda lihat dari Gandhi? Apa hal terbaik yang Anda lihat dari Martin Luther King, Jr.? Apa hal terbaik yang Anda lihat dari Nelson Mandela?
Saya sengaja memilih ketiganya, sebab ketiganya sama-sama belajar ilmu hokum, ketiganya juga adalah para pengacara.Tapi, apakah kita mengingat mereka karena profesi itu? Tidak ada masalah dengan profesi tersebut, tidak sama sekali. Tapi, apakah profesi itu yang membuat mereka terkenal? Pertanyaan yang sama dapat juga ditujukan kepada Vivekananda, Krishnamurti, Baba, Soekarno, Nehru – atau, para pemimpin terbaik lainnya – sebagian dari mereka tidak tamat SMA, contohnya Baba dan Krishnamurti. Vivekananda, yang menjadi sumber inspirasi bagi Bapak bangsa kita, Bung Karno, dan para Pendiri Republik lainnya, adalah mahasiswa yang drop-out.Namun, kita mengenang mereka dengan penuh penghormatan, kenapa?
YANG TERBAIK DALAM DIRI MEREK ADALAH KEMANUSIAAN MEREKA.Ya, kita harus senantiasa ingat bahwa yang terbaik dalam diri anak, yang terbaik dari seorang anak manusia – dari dalam diri setiap orang – adalah kemanusiaan kita.Apakah kita menghargainya, apakah kita menaruh sikap hormat pada baju manusia yang kita pakai; atau kenyataannya justru meremehkan dan melecehkannya?
Jangan salah paham, saya tidak mengatakan mendidik seorang anak, seorang siswa di bidang sains dan seni tidaklah penting, tidak sama sekali. Kemampuan di bidang itu juga dibutuhkan, tapi jangan sampai kita lupa, bahwa jika seorang anak tumbuh menjadi dokter, pengacara, insinyur, politisi, sebagi anggota parlemen – apa pun itu – tanpa kemanusiaan – maka ia hanya akan menjadi seorang monster, yang meneror lingkungannya untuk kepentingannya sendiri. Tidak lebih.
Kiranya, jangan sampai kita salah memahami “yang terbaik’ yang ada dalam diri anak hanya sebatas keahlian tertentu atau sekedar potensi saja.Yang terbaik dari dalam diri anak adalah sisi manusiawi dalam dirinya, kemansiaan.Ini sangat, sangatlah penting – untuk diingat.
Kita butuh sekolah, institusi pendidikan, perguruan tinggi dan universitas yang dapat memberikan kita dokter yang manusiawi, pebisnis manusiawi, industrialis manusiawi, dan yang terpenting dari semua itu adalah, kita butuh guru yang manusiawi, yang membantu memekarkan…
YANG TERBAIK YANG ADA DALAM DIRI SEORANG ANAK, YAITU KEMANUSIAAN MEREKA! Kemanusiaan harus dipahami sebagai aroma dasarnya, keharuman yang mendasari semuanya. Segala macam jenis keahlian, kebolehan di bidang sains, dan seni semata-mata dipelajari hanya untuk menambah kemanusiaan yang memang sudah ada dalam diri anak, dan tidak ada komprominya dengan keahlian yang ia kuasai. Dengan kata lain, profesi, status social, dan seterusnya haruslah manusiawi.
Ingat, pendidikan bukanlah tujuan.Mentor saya selalu mengingatkan kita, bahwa “tujuan akhir Pendidikan adalah Karakter”.Akhir dari atau tujuan pendidikan bukanlah mencetak para pengemis peminta-minta pekerjaan.Pendidikan juga bukan hanya untuk mencari sesuap nasi, tapi mengarahkan kita untuk hidup sesuai dengan kodrat kemanusiaan kita, untuk hidup sebagai manusia bermartabat. Ya, pendidikan adalah untuk kehidupan – untuk bisa hidup sepenuhnya dan memuliakan segala bentuk kehidupan!
Renungan 1
Paus Francis (1936 – …)
Dari Pidato yang disampaikan di Universitas Katolik
Juli 2015, Quito Ekuador
“Pendidikan adalah hak sekaligus keistimewaan yang tidak hanya berupa pengetahuan dan keterampilan belaka, tapi juga rasa tanggung jawab untuk sesame dan bumi.
“Tuhan tidak hanya memberi kita hidup, tapi juga memberi kita bumi, memberi kita semua ciptaan. Tuhan menciptakan pria dan wanita untuk satu sama lain serta memberi mereka potensi besar. Tapi ia juga memberi mereka dan memberikan setiap orang sebuah misi untuk menjadi bagian dari karya kreatif-Nya.
“Tuhan menciptakan dunia dan segala isinya, bukan agar Ia bisa melihat pantulan Diri-Nya, namun justru untuk bisa berbagi. Penciptaan adalah anugrah untuk dibagikan.
“Tempat di mana Tuhan memberi kesempatan bagi umat manusia untuk melatih kreativitas dan membangun komunitas yang saling peduli dan saling menjaga satu sama lain. Kita tidak hanya diundang untuk bisa berbagi dalam karya penciptaan dan kemudian mengolahnya ssaja, tapi juga membuatnya terus tumbuh dan berkembang. Di saat yang sama, kita dipanggil untuk peduli, untuk melindungi, dan menjadi wali-Nya.
“Mengupayakan keseimbangan dan bersikap hati-hati pada bumi adalah hal yang penting dan mendesak mengingat bahaya yang telah kita timpakan padanya, karena sikap kita yang tidak bertanggung jawab dan menyalahgunakan sumber daya yang telah dihadiahkan pada kita.
“Hanya memikirkan kepentingan diri, konsumerisme, ambisi pada uang dan kekuasaan, kurangnya rasa hormat pada apa yang sudah ditentukan Tuhan untuk semua ciptaan, termasuk pada umat manusia, menyebabkan dampak negative pada manusia dan lingkungan.
“Sama hanlnya bahwa manusia dan sekitarnya, keduanya bisa saling “memerosotkan” satu sama lain, pun bisa dibilang bahwa keduanya juga bisa saling mendukung dan dapat membawa ke perubahan yang lebih baik. (Kita) tidak bisa lagi menutup mata atas apa yang terjadi di sekitar (kita) ataupun berpura-pura seakan-akan hal itu tidak menimbulkan dampak pada kehidupan kita. Adalah sangat mendesak bagi kita untuk senantiasa merenungkan dan membicarakan tentang keadaan yang sedang kita alami kemudian mengambil tindakan nyata.
“Tanpa tindakan nyata, maka kita bagaikan Qabil yang ada di Kitab Perjanjian Lama, yang membunuh saudaranya Habil, dan saat Tuhan menanyai Qabil di mana gerangan Habil, demikian ia menjawab, “Memang hanya aku seorang yang harus menjaga saudaraku?” Saya pun bertanya-tanya, apakah jawaban kita akan sama seperti, “Memang hanya aku seorang yang harus menjaga saudaraku?”
“Kita telah menerima bumi ini sebagai warisan, anugrah, amanah. Ada baiknya kita coba bertanya pada diri kita: Dunia macam apa yang kelak akan kita wariskan? Makna dan arah hidup macam apa, yang akan kita sematkan dalam kehidupan kita? Mengapa kita semua berada di sini?
“Pertanyaan semacam itu seharusnya menjadi bagian dari sebuah proses pendidikan. Kiranya bantuan apa yang dapat kita berikan agar pendidikan mereka menjadi sebuah tanda akan sebuah tanggung jawab dalam menjawab semua tantangan saat ini, terutama tentang masalah lingkungan dan kebutuhan kaum papa?”
(Sumber: Catholic Herald, 2015)
(Gambar: Learning to Nurture Nature/Belajar Melestarikan Tanaman
One Earth School, Bali)
(Gambar: Learning to Serve/Kerja Bhakti Membersihkan Lingkungan Sekitar
One Earth School, Bali)
2
NILAI KEMANUSIAAN YANG UNIVERSAL
“Di penghujung hari, jabatan hanyalah sebuah jabatan
Sebuah gelar akan tetap menjadi sebatas gelar, ia datang dan pergi
Silih berganti. Esensi diri dan nilai-nilai yang kau terapkan
Itulah yang paling penting.”
Ratu Rania dari Yordania
Sesungguhnya, apa yang dianggap sebagai “Prinsip Dasar” adalah dasar yang diletakkan di atas pondasi pendidikan yang manusiawi, sistem pendidikan, maupun semua jenjang institusi pendidikan harus dibangun, yaitu: “Perlakukan orang lain seperti Anda ingin diperlakukan.”
Ini bukanlah monopoli salah satu agama atau system kepercayaan. Seperti yang akan kit abaca selanjutnya, ini adalah prinsip yang bersifat universal.
Kebijakan Mesir Kuno:
“Apa yang kau lakukan terhadap orang lain adalah sebab ia
memperlakukan dirimu (dengan cara yang sama).”
(Kisah Eloquent Peasant,
Terjemahan Bahasa Inggris oleh R.B. Parkinson)
Spiritualitas Native Amerika:
“Semua yang ada adalah saudara kita;
Apa yang kita perbuat pada semua,
Kita perbuat juga pada diri kita.
Sesungguhnya Semua adalah Satu.”
(Black Elk)
Kebijakan Romawi Kuno:
“Hukum yang tertulis dalam hati semua manusia adalah
untuk mencintai masyarakat seperti mereka mencintai
diri mereka sendiri.”
Wiccan Rede (Himne Kebijaksanaan):
“Lakukan apa saja yang kau suka, asal tidak membahayakan
siapa pun, termasuk dirimu.”
Kebijakan Yoruba Afrika:
“Ia yang akan mengambil tongkat runcing untuk mencubit
seekor bayi burung mesti mencobanya dulu pada dirinya
sendiri dan merasakan bagaimana sakitnya.”
Mutiara-mutiara kebijakan ini diperoleh dari, apa yang biasa kita sebut sebagai, aliran kepercayaan. Di mana letak perbedaannya dengan system kepercayaan yang kita kenal sebagai agama?
Hindu: Tidak seharusnya seseorang melukai orang lain, seperti ia pun merasa terluka jika diperlakukan dengan cara yang sama. Ini, secara garis besar, adalah dharma (Kebajikan atau nilai luhur ketetapan dalam hal bertindak).Perilaku lai yang bertentangan adalah disebabkan oleh ego mementingkan diri belaka.(Mahabharata, Anusasana Parva, Bab CXIII, Ayat 8)
Buddhis: Jangan lukai orang lain seperti kau pun tidak ingin dilukai. (Udanavarga 5:18)
Konghucu: Jangan pernah memperlakukan orang lain seperti kau pun tidak ingin diperlakukan. (Analects XV.24)
Yahudi: Apa saja yang tidak kau sukai, jangan kau perlakukan pula kepada sesamamu. Inilah Keseluruhan Isi Taurat; sisanya adalah penjelasan; lakukan dan pelajari. (Talmud, Shabbat 31a)
Kristen:Perlakukan orang lain seperti kau pun ingin diperlakukan, inilah intisari hokum Musa dan ajaran para utusan. (Matthew 7:12)
Islam:Tidaklah ia benar-benar beriman hingga ia berdoa untuk saudaranya seperti ia berdoa untuk dirinya sendiri. (An-Nawawi’s Forty Hadith 13)
Dan dimanakah letak perbedaan ajaran tersebut dengan para filsuf mashyur berikut:
Epictetus: Apa saja kesulitan yang kau coba hindari, janganlah kau timpakan pada orang lain.
Kant:Berbuatlah dengan penuh keyakinan serta ketekadan bahwa perbuatanmu itu bisa menjadi tolok ukur bagi hukum kebajikan yang bersifat universal.
Socrates:Jangan lakukan kepada orang lain apa-apa yang dapat memancing amarahmu jika orang lain perbuat kepadamu.
Seneca:Perlakukan bawahanmu seperti kau pun ingin diperlakukan oleh atasanmu.
“Prinsip Dasar” ini juga adalah check point atau tolok ukur untuk semua Nilai-Kemanusiaan lainnya. Jika nilai-nilai tersebut sejalan dengan prinsip ini, maka nilai manusiawi, dan bersifat universal. Dan, jika nilai-nilai itu tidak sejalan, maka ia bersiafat raksasa, barbar, tidak manusiawi, dan tidak universal.
MENTOR SAYA MENYARANKAN EMPAT NILAI KEMANUSIAAN. Nilai-nilai tersebut adalah: Kebenaran (Satya), Ketepatan Bertindak atau Kebajikan (Dharma), Kedamaian (Santi), dan Kasih Sayang (Prema). Setelah itu, satu nilai lagi, yaitu Tanpa Kekerasan (Ahimsa) baru ditambahkan. Sesungguhnya, Tanpa-Kekerasan merupakan hasil alami dari Kasih Sayang dan terkait dengan Ketepatan Bertindak.
Tidak berarti, bahwa Nilai Kemanusiaan Universal hanya empat nilai itu saja. Masih ada banyak lagi lainnya.Yang paling dasar memang empat nilai di atas.Kita juga bisa tambahkan beberapa sub-nilai lainnya yang terkait dengan empat nilai dasar ini.
Misalnya, Integritas dan Kejujuran menjadi sub-nilai dari Kebenaran; Tanpa-kekerasan, Empati, Berbagi, Peduli-Semua adalah sub-nilai dari Kasih Sayang; Berbicara dengan Lembut, Kebersamaan, dan seterusnya sub-nilai dari Kedamaian; dan, Melayani yang Membutuhkan menjadi sub-nilai Ketetapatan Bertindak. Itu beberapa contoh saja. Demikian,
KEEMPAT NILAI INI ADALAH YANG PALING PENTING DAN PALING MENDASAR.Para Guru dan Pendidik harus senantiasa mempraktikkan keempat nilai dasar itu terlebih dahulu sebelum mengajarkannya ke anak-anak.
Lakukan apa yang kau katakana, Lakoni sebelum Berkotbah. Jadikan diri kita agen perubahan dan transformasi, dimulai dari transformasi diri, mengubah diri, baru kemudian, dan hanya kemudian, kita baru dapat melayani sesame. Ya, melayani sesame lewat berbagi nilai-nilai ini dengan anak-anak.
Seperti yang mentor saya selalu ajarkan, nilai-nilai ini sebaiknya menjadi bagian dari, dan mewarnai seluruh kurikulum. Cara pandang dan cara berpikir kita, semua hal yang dipelajari anak-anak harus diajarkan dengan didasarkan pada nilai-nilai tersebut. Sehingga, seluruh system pendidikan berorientasi nilai.
Jadi, seorang Guru Sejarah, misalnya, bukan hanya mengajar tanggal/hari bersejarah dan tokoh sejarah saja, tapi yang terpenting pelajaran dan kebijakan yang bisa dipetik dari masa lalu, sehingga kesalahan yang sama tidak terulang lagi.
Begitu juga, seorang Guru Geografi tidak hanya mengajarkan ke murid-muridnya tentang letak negara-negara, tapi tentang planet bumi ini sebagai rumah kita bersama.
Bahkan, Matematika, Fisika, Kimia, Biologi – semua pelajaran, termasuk sains – haruslah berorientasi nilai.
SEBAGAI TAMBAHAN, satu minggu sekali, adakan kelas tentang Nilai-nilai Kemanusiaan. Ini minimal. Dan, khusus di kelas ini tidak perlu ada PR. Anak-anak jangan sampai merasa terbebani.Mereka mesti menunggu-nunggu kelas berikutnya, dengan senang hati.
Kita tidak sedang membahas metodologi mengajar di sini.Apa yang diberikan berikut adalah komponen-komponen yang paling esensial dalam mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, dan supaya kita senantiasa mengingat:
- Yoga/Meditasi berguna untuk Meningkatkan Inteligensia.
- Bercerita berguna untuk membantu Menyerap Nilai yang disampaikan.
- Bernyanyi berguna untuk Membudayakan Emosi.
- Bermain-peran(Role Play atau Drama Singkat) berguna untuk Membangun Kebijaksanaan.
- Aktivitas Kelompok/Bersama berguna untuk Melatih Kebersamaan, dan Membangun Kemampuan Bekerja dalam Tim.
(Gambar: Yoga for Kids, One Earth Retreat Centre, Ciawi, Bogor)
Renungan 2
Sri Sathya Sai Baba (1926-2011)
Pendidikan
“Pendidikan bukan perolehan informasi tentang benda dan manusia yang membebani.Pendidikan adalah kesadaran tentang jiwa abadi yang ada di dalam diri tiap makhluk, yang menjadi sebab sukacita, kedamaian dan keberanian.
“Pendidikan menjadi sebab munculnya kerendahan hati, menjadi sebab seseorang diberkahi dengan kekuasaan untuk menentukan kesejahteraannya. Dengan berderma dan memupuk cinta kasih, keberuntungan yang telah ia tentukan sendiri akan menunjukkan hasinya, dan dengan begitu, ia memperoleh kebahagiaan selama di dunia, dan kedamaian di kehidupan selanjutnya. Tidaklah seseorang dianggap berpendidikan jika ia hanya membebani dirinya dengan pengetahuan belaka.
“Ia yang berpendidikan terlihat dari sopan santun dan caranya bersikap.Terkecuali pengetahuan bertranformasi menjadi kebijakan, dan kebijakan terpencar dalam karakter, pendidikan hanya membuang waktumu saja.Anugerah paling berharga dari pendidikan adalah karakter.Dan, karakter terbangun di atas keinginan melepaskan ambisi pribadi.
“Apa yang kita perlukan sekarang bukanlah EHV (Education in Human Values – Pendididkan Nilai Kemanusiaan) tapi 3-HV: (Head-Heart-and-Hands) Pikiran-Rasa-Tindakan. Tangan seharusnya menerjemahkan apa yang diyakini dalam hati (rasa) dan dibenarkan oleh ide yan berasal dari kepala (pikiran). Apa yang terpikirkan di kepala, harus diuji secara seksama terlebih dulu oleh hati dan keputusan tepat yang telah daiambil harus diwujudkan oleh kedua tangan. Inilah yang seharusnya menjadi produk utama dari proses pendidikan.
“Pendidikan saat ini tidak mampu membuat siswa memiliki kapasitas atau ketabahan untuk menghadapi tantangan dalam keseharian mereka. Dunia pendidikan kini telah menjadi medan ketidaksadaran. Pendidikan yang sesungguhnya seharusnya mampu membuat seseorang menggunakan pengetahuaannya untuk menaklukkan tantangan hidup dan membuat sesame manusia menjadi sebahagia mungkin.
“Banyak orang mengira bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mendapat gelar, untuk mendapat pengakuan. Gelar B.A. artinya apa? B.A+D (D singkatan dari Degree – Gelar) artinya menjadi BAD (buruk), dan jika Anda orang yang lebih pandai maka akan menjadi M.A.+D=MAD (gila)!
“Belajar untuk mencari nafkah artinya baru setengah pekerjaan saja yang diselesaikan.Setengahnya lagi adalah untuk membuat kehidupan menjadi bermakna dan pantas dihargai.Bukan hidup untuk makan, tapi hidup demi suatu yang ideal, inilah tujuan pendidikan.
“Apa yang dibutuhkan dunia saat ini bukan suatu tatanan baru, pendidikan baru, system baru, masyarakat baru, ataupun agama baru.Penawarnya tersimpan di dalam pikiran dan perasaan yang penuh kesucian.Pelayanan ideal dan keinginan untuk menerjemahkan dalam keseharian, inilah yang membentuk jantung pendidikan.Manifestasi utama pendidikan adalah Kemurnian Kasih.”
Guru
“Di antara semua profesi, Guru memiliki tanggung jawab terbesar. Guru harus membentuk generasi muda sekarang, sehingga tumbuh sebagai warga negara yang layak di masa depan. Jika Guru sendiri belum mengikuti etika normal seperti kebenaran dan sebagainya, bagaimana bisa mereka menanamkan kebiasaan baik dan nilai-nilai dalam diri anak?
“Nilai-nilai kemanusiaan tidak dapat dipelajari hanya dari sumber tertulis – buku.Mereka yang berusaha menanamkan nilai-nilai dalam diri siswa pertama-tama mesti mempraktikkannya terlebih dulu dan menjadi contoh.Isi hatimu dengan kasih dan arahkan anak-anak yang ada di bawah naungan didikanmu ke jalan ideal.Bulatkan tekad untuk mengorbankan segala yang kau punya untuk anak-anak berhati murni yang bergantung pada tuntunanmu.Kamu hanya bisa mengajari kasih ke anak-anak lewat kasih itu sendiri.
“Jika seorang siswa punya sifat buruk, maka ia sendiri yang akan tercemar. Tapi, jika seorang guru punya sifat buruk, maka ribuan yang akan tercemar.
“Guru mampu memperoleh ideal setinggi apa pun, asalkan mereka kooperatif, berdisplin tinggi, melibatkan diri dalam kegiatan pelayanan dan pengorbanan serta sepenuhnya bertekad untuk berhasil. Guru seharusnya tidak menghitung-hitung waktu jam kerjanya. Bahkan, bila perlu, mereka harus siap untuk tinggal selama berjam-jam untuk menghapus keraguan dari siswa dan membantu mereka untuk menyelesaikan tugas mereka.Ini aalah tugasmu.
“Jika guru mampu memainkan perannya dengan baik, maka sebuah bangsa akan bertransformasi.Kelalaian dan kesalahan yang diperbuat siswa sepatutnya ditimpakan pada orangtua dan gurunya.
Orangtua
“Para orangtua dan guru adalah pencipta – membentuk siswa-siswi yang berada di bawah naungan mereka. JIka orangtua dan guru memberi teladan yang tepat, maka siswa pun otomatis akan mekar sebagai teladan unggul dan membawa kemuliaan bagi bangsanya.
“Pengaruh orangtua pada pola piker anak sangatlah signifikan. Sebetulnya, pengaruh ini terutama akan terlihat pada kepribadian dan pola prilakunya. Para orangtua punya tanggung jawab utama untuk membentuk karakter anak. Jangan artikan kasih sayangmu dengan memberi terlalu banyak kebebasan.
“Kasih saying yang tidak pada tempatnya adalah membiarkan anak berbuat sesuka hatinya di rumah. Di rumah, Ayah dan Ibu seharusnya meneruskan pula apa yang telah diajarkan oleh gurunya di sekolah.
Anak-anak
“Polos dan Murni, itulah pikiran anak-anak. Tiap anak layaknya marmer putih yang kemudian dibentuk oleh guru dan orangtuanya menjadi gambaran Tuhan, kuncup yang butuh bantuan agar dapat memekarkan segala potensi Keilahian, demikian ia menjadi sebuah persembahan yang layak bagiNya.
“Sebuah pohon muda dapat dibantu untuk tumbuh lurus ke atas, tapi sekali ia menjadi pohon, maka ia sudah tidak butuh panduan lagi.Anak-anak harus tumbuh dalam kesadaran tentang persaudaraan manusia dan Ketuhanan.Anak-anak harus tumbuh dalam suasana penghormatan, pengabdian, kebersamaan dalam pelayanan dan saling bekerjasama.
“Pada dasarnya anak-anak adalah baik dan mereka bersedia menjalankan tugas yang diberikan serta sangat mampu menerima pelajaran apa pun. Penyebab keanehan, ketidakpatuhan dan kadang muncul ketidakdisplinan adalah karena orangtua tidak mampu memberi teladan yang baik dalam hal kebenaran dan pengendalian diri.
“Sejak tahun-tahun awal kehidupannya – saat anak mulai melihat sekitarnya dengan penuh ketakjuban, mulai ajarkan ia untuk memupuk rasa kasih untuk semua. Kasih mengantar pada kesatuan.Kesatuan mengembangkan kemurnian.Kemurnian mengantar pada Keilahian.
“Syarat pertama untuk anak-anak adalah memiliki kasih dan rasa hormat pada orangtua mereka, di mana mereka berhutang segalanya. Biarkan anak-anak, bahkan pria dewasa, perempuan dewasa menyentuh kaki ayah dan ibunya, tiap pagi sebelum mereka menjalankan aktivitas mereka.”
Siswa
“Siswa harus menunbuhkan rasa syukur, kasih saying dan tolenransi.Simpati kepada mereka yang menderita adalah kualitas dasar mental manusia. Semua gelar, kesarjanaan dan kecendikiaan sama sekali tidak bernilai jika seseorang tidak punya kualitas yang baik. Gelar diakui oleh yang berhak menerima lewat teladan hidup mulia yang dilakoninya. Pupuklah kebajikan.
“Di mana pun siswa berada, suasana yang dibentuk mestilah penuh keheningan, ketenangan dan keamanan, sebab hanya dengan begitu maka pelajaran dapat terserap. Masa muda adalah tahap dalam kehidupan, di mana kelalaian sekecil apa pun akan berujung pada bencana.
“Rentang usia 16 hingga 30 tahun sangat krusial, ini adalah periode ketika hidup menunjukkan keindahannya, saat bakat, keahlian dan sikap terakumulasi, menjadi matang, dan suci. Selama periode tersebut, jika pikiran dihidupkan dengan pelayanan tanpa pamrih maka misi kehidupan telah terpenuhi.
“Hormati orangtuamu.Kasihi dan hormati guru-gurumu.Ini adalah langkah pertama dalam disiplin, yang mengantar pada karakter bijak.”
(Gambar: Pesta Anak World Class Citizen,
One Earth Integral Education Foundation,
Yogyakarta, Central Java)
3
MENGUBAH NILAI MENJADI ENERGI
“Terlalu banyak orang bicara omong kosong,
dan sangat sedikit yang mampu melakukan apa yang ia ucapkan,
bertindaklah sesuai dengan ucapan;
tindakan berbicara lebih keras dari kata-kata”
Anonim
Banyak orang, banyak pendidik, bicara soal nilai-nilai kemanusiaan (budi pekerti).Tidak sedikit pula sekolah-sekolah yang mengadopsi nilai sebagai bagian dari kurikulum.Namun, yang sering terlewatkan adalah menerjemahkan nilai-nilai yang diajarkan menjadi energi, serta rencana-kerja untuk menguatkan hati, pikiran, dan tubuh si anak. Dengan kata lain,
NILAI-NILAI YANG DIAJARKAN HARUS DILAKONI. Seluruh upaya dan waktu yang dipakai untuk mempelajarinya akan percuma, jika nilai-nilai tersebut tidak dipraktikkan dalam keseharian. Swami Vivekananda, begitu juga Rudolf Steiner, pendiri Sistem Pendidikan Waldorf, dan Sathya Sai Baba – semua bicara tentang pentingnya Head (Pikiran), Heart (Rasa), dan Hand (Tindakan) bekerja saling selaras.
3H ini, terkait dengan TIga Aliran Energi, yaitu Energi Kehendak (Icha Sakti); Energi Kebijaksanaan (Jnana Sakti); dan Energi Tindakan, atau Ketepatan dalam Bertindak (Kriya Sakti).
KEHENDAK YANG KUAT KAITANNYA DENGN HATI. Yang pertama yang harus dipahami adalah tentang apa yang dimaksud dengan hati di sini. Hati, dalam pengertian ini, buknalah tempat bersarangnya segala macam emosi.Segala bentuk emosi kita, yang selam ini dikaitkan dan dibahas oleh mereka yang disebut-sebut cendekia, tidak lebih sebagai bagian dari pikiran.
Keinginan, amarah, dan apa yang biasa kita sebut cinta adalah sekedar emosi. Sungguh sangat ironis bahwa, mereka yang menyebut dirinya cendekia pun, masih belum mampu membedakan antara birahi dan keterkatan dari cinta – yang merupakan produk pikiran.Dan pkiran butuk otak untuk mengekspresikan diri.Jad, sebetulnya otaklah yang menjadi asal muasal segala emosi ini.
Kekuatan Kehendak bukanlah emosi seperti yang dimaksud. Kekuatan Kehendak terkait dengan “inner” heart kita, atau lapisan psikis kita. Kekuatan Kehendak menguatkan nyali kita, dan menjadikan kita berani (tanpa rasa takut). Dalam hal ini, kita pun harus memahami apa itu rasa takut, dan
KEBENARAN ADALAH kemampuan menghadapi semua rintangan, semua keadaan “yang dianggap” berbahaya, dan membahayakan dengan pikiran yang tenang dan penuh kesabaran. Dengan kata lain, Keberanian membuat kita bertindak dengan penuh tanggung jawab di setiap situasi. Keberanian, tidak berarti nekat dan bertindak sembrono.
Ia yang berani selalu sadar dengan apa yang dia perbuat. Ia yang sembrono sebaliknya. Ia yang berani, mengikuti Prinsip Dasar yang telah kita bahas sebelumnya, ia yang sembrono, tidak.
Oleh karenanya, untuk menjadi berani, Kekuatan Kehendak sangat dibutuhkan.Kita takkan pernah jadi berani jika tidak punya Kekuatan Kehendak.Kebulatan tekad, ketabahan dalam menghadapi semua rasa takut dan semua bahaya dengan penuh tanggung jawab dan secara tepat, semua berasal dari Kekuatan Kehendak yang Kuat.
Keberanian pun hanyalah salah satu dampak dari Kekuatan Kehendak yang Kuat, dan sesungguhnya ia tidak akan berdiri sendiri. Masih ada dapak lainnya, yang sebetulnya saling terhubung satu sama lain. Dampak yang saling melengkapi satu sama lain, seperti…
KECINTAAN PADA KEBENARAN, KEJUJURAN, KESETIAAN, INTEGRITAS, DAN SETERUSNYA semua itu terkait dengna Keberanian. Ambil contoh, tahu tentang kebenaran adalah satu hal, mencintai kebenaran aalah hal yang lain. Untuk bisa tahu tentan Kebenaran, yang harus ditumbuhkan dan diperbaiki adalah kemampuan intelegensia kita dan baru kemudian kita jadi bijak.Tapi, untuk mencintai Jalan Kebenaran, yang kita butuhkan adalah Kekuatan Kehendak.Sama halnya, untuk menjadi seorang yang jujur, untuk bisa hidup dengan penuh kejujuran, untuk bisa menjadi orang yang senantiasa memiliki integritas – kita butuh Kekuatan Kehendak.Hanya menumbuhkan dan mengasah intelegensia saja belumlah cukup.
Taka semua orang tahu apa itu kebenaran – dan, sebagian besar dari kita sesungguhnya mengetahui apa itu Kebenaran – menapaki Jalan Kebenaran. Mengetahui tentang integritas dan nilai-nilai lantas membuat kita mencintai nilai-nilai itu. Dengan kata lain, mengetahui adalah satu hal, mengaplikasikan apa yang kita ketahui adalah hal lain. Kekuatan Kehendak yang betul-betul kuat dibutuhkan agar kita melakoni yang kita katakana, mempraktekkan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur dan menjadi manusia seutuhnya.
Selanjutnya…
ENERGI KEBIJAKSANAAN TERKAIT DENGAN PIKIRAN.Energy Kebijaksanaan, atau Intelegensia yang Tepat, sesungguhnya, adalah berkembangnya, mekarnya fakultas mental kita.Yang perlu diingar di sini adalah Fakultas Mental atau Mana terdiri dari Pikiran dan emosi.Dengan kata lain, setiap kita bicara tentang fakultas mental, maka kita bicara tentang lapisan Kesadaran Mental/Emosional.
Intelegensia yang Tepat adalah TransformasiTotal dari Pikiran Manusia. Ini sama halnya seperti Pikiran yang telah Terbudaya/Tertransformasi, disebut Buddhi. Istilah dalam Bahasa Indonesia “Budi Pekerti” maksudnya sama seperti proses transformasi ini.
Seorang Manusia denganBudi Pekerti adalah seorang manusia dengan Intelegensia Murni, yang tidak terkait sama sekali dengan intelektual atau pengetahuan biasa. Kebijaksanaan adalah bagian dari karakter dirinya, sifat “Alamiah”-nya, bagian dari Pekerti atau Prakrti.Laki-laki semacam ini, perempuan seperti ini, orang-orang ini, mampu membedakan Sreya (Kemuliaan, atau Tindakan Mulia yang menghasilkan Kebahagiaan) dan Preya (Tindakan yang menghasilkan kesenangan sesaat).Kemampuan memilah adalah hasil, turunan alamiah Buddhi.
Sebuah pertanyaan muncul…
MENGAPA MENEMPATKAN KEKUATAN KEHENDAK SEBELUM KEBIJAKSANAAN? Seperti yang sudah kita diskusikan sebelumnya, ketiga aliran energi ini saling berkaitan satu sama lain, 3-in-1. Sesungguhnya hanya ada satu aliran Energi Murni, mengalir ke semua fakultas.
Pengelompokan yang dibuat, adalah sekadar untuk memfasilitasi, tidak hanya para guru dan pendidik, tapi juga untuk penggiat spiritual, yang sedang menapaki Jalan Menuju Hyang Absolut.
Bagi anak-anak yang masih di bawah 12 tahun, kita memang harus membantu mereka mengakses Sumber Kekuatan Kehendak mereka, sebelum beranjak mengembangkan fakultas-fakultas lainnya.Tapi, tidak lantas ini diartikan menunggu sampai Kekuatan Kehendak dalam diri mereka “benar-benar sempurna”, sebelum beranjak mengembangkan dua aliran energi selanjutnya.
Apa definisi kita tentang Kekuatan Kehendak yang “benar-benar sempurna”? Apakah memungkinkan adanya sebuah definisi yang universal?Apakah memungkinkan dibuat instrument pengukurannya?
DENGAN MEMBANTU ANAK MENGAKSES SUMBER KEKUATAN KEHENDAKNYA TERLEBIH DULU, guru dan pendidik, sesungguhnya juga, membantu diri mereka sendiri dalam proses mengajar. Seperti yang akan kita lihat dan diskusikan selanjutnya, Kekuatan Kehendak menghasilkan Disiplin Diri. Dibutuhkan Disiplin Diri yang tinggi bagi seorang anak untuk bisa duduk tenang di dalam kelas. Disiplin yang dipaksakan hanya akan membuat anak menjadi takut dan gelisah. Ia hanya akan mematuhi disiplin karena takut akan hukuman, atau takut dimarahi guru. Hal ini akan didiskusikan lebih banyak selanjutnya, saat kita membahas mengenai teknis dan metode di kelas.
Nah, jika kita bekerja dengan yang sudah dewasa atau remaja, baik di dalam sekolah/kelas, ataupun di luar kelas – kita bisa…
TERLEBIH DAHULU, MEMULAI DENGAN KEBIJAKSANAAN dengan asumsi atau anggapan bahwa pikiran mereka sudah lebih berkembang daripaa saat mereka masih di Kelompok Bermain, TK, atau SD – yang sayangnya, tidak selalu terjadi.Para remaja dan orang dewasa kita, mungkin masih mempertahankan pikiran kanak-kanak mereka, tanpa buddhi, intelegensia sejati, atau kebijaksanaan, yang membuat mereka berani dan bebas untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai luhur kebijaksanaan.
Sebagai contoh, kita semua tahu tentang bahaya, bahaya yang benar-benar nyata, atau dampak-buruk daging pada kesehatan kita; namun, kita tetap tidak mengubah diet kita dan mendorong anak-anak kita untuk mempertahankan kebiasaan atau diet-buruk yang sama. Apakah kita bertindak bijaksana?
Seorang pemakan daging atau akademisi yang merokok tidak bisa disebut orang bijak.Seorang pejabat korup, tidak peduli seberapa tingginya posisinya – bukan orang yang bijaksana. Seorang pegiat bisnis, banker, atau pengusaha yang menghalalkan segala cara untuk mengisi pundi-pundinya bukan manusia bijaksana. Seorang pengkhotbah bukanlah pengkhotbah yang bijaksana. Di atas semuanya, guru yang tidak menghayati nilai-nilai yang ia ajarkan, tidak bisa disebut guru.
Jadi, sebenarnya,
TIDAK ADA ATURAN BAKU aliran Energi mana yang harus diolah terlebih dulu.Saran yang diberikan di sini disesuaikan dengan situasi yang sering dijumpai, situasi yang umum.
Bagi anak-anak, Kekuatan Kehendak adalah yang pertama; dan, bagi para remaja dan orang dewasa Kebijaksanaan adalah yang pertama.
Jangan sampai Anda salah paham, saya ulangi – kata “pertama” di sini dipakai dalam konteks penekanan, dan bukan dalam konteks matematis, yang menunjuk pada urutan pertama, kedua, dan ketiga – hal yang satu diikuti yang lain.
Pada akhirnya, dengan mengembangkan Kekutan Kehendak untuk memperoleh Kebijaksanaan; atau mengolah Kebijaksanaan guna memperkuat Kekuatan Kehendak; hasilnya adalah satu dan sama, yaitu…
KETEPATAN BERTINDAK ini tidak hanya berhubungan dengan apa saja yang kita kerjakan dengan tangan dan kaki kita, tapi terkait dengan perbuatan, dengan tindakan yang dilakukan seluruh anggota badan kita, dengan semua indera kita. Ketepatan dalam Bertindak meliputi Ketepatan dalam Kecepatan, Ketepatan dalam Pengambilan Keputusan, Ketepatan dalam Profesi kita masing-masing, dan sebagainya dan seterusnya.
Ketepatan Bertindak artinya Hidup secara manusiawi, dan menjadi berkah bagi sesame, pemberi kontribusi bagi dunia, penyayang planet, menjadi pengurus yang baik dari tempat tinggal bersama seluruh makhluk.Dengan begitu, Ketepatan Bertindak semestinya menghasilkan Pengusaha dan Industrialis Sadar-Lingkungan; Politisi Berprinsip; para Profesional yang menjadi KOntributor Efektif bagi kesejahteraan dan kemakmuran semua; dan sebagainya, dan seterusnya.Camkan semua hal itu dalam pikiran, dan sekarang, kita beralih pada metode pengajaran, dan beberapa hal teknis lainnya.
Renungan 3
Ki Hajar Dewantara (1889-1959)
“Berilah kemerdekaan kepada anak-anak kita, bukan kemerdekaan yang leluasa, tetapi yang terbatas oleh tuntutan-tuntutan kodrat alam yang nyata, dan menuju kea rah kebudayaan, yaitukeluhuran dan kehalusan hidup manusia.Kemudian agar kebudayaan itu dapat menyelamatkan dan membahagiakan hidup dan penghidupan diri dan masyarakat, maka perlulah dipakai dasar kebangsaan, tetapi dasar tersebut jangan sekali-kali melanggar atau bertentangan dengan dasar yang lebih luas, yaitu dasar kemanusiaan.”
(Gambar: Pesta Anak World Class Citizen
One Earth Integral Education Foundation
Kediri, East Java)
(Gambar: Reduce, Reuse, Recycle
Seni Memanfaatkan Barang Bekas
One Earth School, Bali)
4
METODE DAN TEKNIS PENGAJARAN
“Seseorang akan menaruh apresiasi tinggi bagi guru-guru
dengan pikiran cemerlang, namun ucapan syukur
akan dipanjatkan bagi mereka yang mampu menyentuh
perasaan manusia. Kurikulum merupakan bahan mentah
yang sangat dibutuhkan, namun kehangatan tetaplah menjadi
elemen terpenting untuk tanaman yang sedang tumbuh
dan untuk jiwa anak.”
Carl Jung
Pertama-tama, kita mesti tahu persis apa yang ingin kita capai dari Ketiga Aliran Energi ini. Apa yang menjadi tujuan kita, ini yang penting, kita akan telusuri satu-persatu.
ENERGI KEKUATAN KEHENDAK apa yang kita harapkan dari seorang anak yang Kekuatan Kehendaknya telah berkembang atau telah diperkuat?
Para Ilmuwan Kontemporer dan Psikolog nampaknya akan sepakat bila Kekuatan Kehendak yang kuat menghasilkan Disiplin Diri. Kita menyebutnya Pemberdayaan Diri.Kita tidak perlu menciptakan kebingungan dan perdebatan isitilah. Keduanya saling berhubungan, atau lebih tepatnya, terkait satu sama lain. Bagaimana kita bisa berdisplin dan mendisplinkan diri kita, tanpa terlebih dulu memberdayakan diri kita sendiri?Jadi, Pemberdayaan Diri menghasilkan Disiplin Diri.
Apa itu Disiplin Diri?
Kemampuan untuk menguasai diri.Dengan kata lain, penguasaan atas pikiran, lapisan kesadaran mental/emosional, organ indera dan persepsi; serta intelek.Penguasaan semacam itu, atas diri, atas pikiran memastikan keberhasilan di segala bidang.Memang dasar dari seua pencapaian kita, berdiri di atas landasan Kekuatan Kehendak. Nah, kiranya apa yang dapat kita upayakan untuk memotivasi atau lebih tepatnya menumbuhkan motivasi dari dalam diri seorang anak untuk mau memberdayakan dirinya?
KEKUATAN KEHENDAK MUNCUL DARI DALAM HATI, dan hati paling menyukai permainan sandiwara. Oleh karenanya, Energi Kekuatan Kehendak ini, paling bagus ditingkatkan lewat permainan edukasi yang beragam jenis.
Saya pernah membaca tentang Stanford Marshmallow Experiment, serangkaian studi yang dilakukan di akhir tahun 1960 dan awal tahun 1970-an terhadap Penundaan Kepuasan (Delayed Gratification) dipimpin oleh Walter Mischel, seorang psikolog yang kemudian menjadi dosen di Universiatas Stanford.
Dalam pengujian yang dilakukan, beberapa anak ditinggalkan sendiri dalam sebuah ruangan dengan kotak penuh kue. Tiap anak boleh memilih, untuk mengambil sejumlah kue, atau mau menunggu paling tidak selama 15 menit, hingga ada orang masuk ke dalam ruangan, di mana anak-anak yang tidak mengambil kue sendiri selama di dalam ruangan, akan diberikan kue lebih banyak.
Coba tebak?!
ANAK-ANAK PANDAI DAN MEREKA YANG MENDAPAT PERINGKAT BAGUS DI KELAS hampir seluruhnya bergegas mengambil kue sendiri.Mereka tidak memiliki pengendalian diri.Bertahun-tahun kemudian, mereka, anak-anak pandai, ternyata bekerja sebagai pegawai biasa saja di bidang administrasi dan sebagainya.
Di sisi lain, anak-anak yang memiliki pengendalian diri dan tidak mengambil kue sendiri kuenya dan bersedia menunggu – tumbuh untuk menjadi orang-orang yang unggul di bidangnya masing-masing.
Dengan kata lain, peringkat bagus bukanlah segalanya. Pengendalian diri, Disiplin Diri – kedua hal ini membuat perbedaan besar. Inilah Pemberdayaan Diri. Sekarang, kita bahas kembali apa yang dapat kita upayakan untuk memotivasi, atau lebih tepatnya memunculkan motivasi dari dalam diri anak sehingga ia mampu memberdayakan dirinya, dengan kata lain, agar anak melatih pengendalian diri, untuk mendisiplinkan diri mereka sendiri?
HARGAI ANAK-ANAK YANG BERDISIPLIN DIRI, MEMBERDAYA DIRI, dengan memberinya kesempatan untuk membantu anak-anak yang kurang punya disiplin dan kurang terberdaya.
Mulai dengan langkah kecil.
Bantu anak yang kurang mampu memberdayakan dirinya untuk belajar merapikan penampilan mereka, merapikan bangku mereka, dan sebagainya.Bantu mereka membetulkan dasi, merapikan baju mereka.Ini sangat penting.
Biarkan anak yang memiliki disiplin menjadi contoh. Artinya, biarkan mereka melakoni apa yang mereka katakana. Meraka harus rapi dulu sebelum membantu anak-anak yang kurang terberdaya untuk merapikan penampilan mereka, bangku mereka, dan seterusnya.
Kemudian, anak-anak yang kurang disiplin dan kurang rapi dipersilahkan untuk bercermin, dan dibuat sadar – dengan penuh perhatian dan kasih – bahwa berpenampilan rapid an baik adalah baik untuk diri mereka sendiri.
Anak-anak yang disiplin dirinya bagus juga bisa ditunjuk sebagai asisten para guru.Ini adalah penghargaan tertinggi yang dapat Anda berikan pada anak-anak di sekolah.
SELANJUTNYA, ENERGI KEBIJAKSANAAN – ini terkait dengan Fakultas Mental/Emosional, Gugusan Pikiran.
Meditasi, duduk hening, dan visualisasi untuk anak-anak yang masih kecil – yang mesti disesuaikan dengan usia dan minat mereka – merupakan beberapa metode yang bisa diadopsi.
Di sini, kepekaan Guru sangat dibutuhkan, lebih disebabkan karena Guru yang memutuskan metode mana yang paling pas untuk anak-anak didiknya. Teknik meditasi seerhana, seprti tarik napas dalam dan perlahan, hingga ke perut, rasakan perut yang mulai terisi udara mengembung, mengembang, dan hembuskan napas perlahan, rasakan udara yang ada di perut mulai habis, perut mengempis kembali – bisa dipakai untuk semua usia. Anak-anak kecil belum bisa melakukannya tanpa panduan dari gurunya, dan teknik ini bisa dilakukan maksimal 9-11 kali pengulangan.Anak-anak yang lebih besar, bisa melakukannya lebih lama dan cukup dipandu di awal saja.
Untuk anak-anak yang lebih kecil, setelah selesai melakukan teknik pernpasan beberapa kali putaran, fasilitator/guru bisa memandu mereka untuk membayangkan taman, pegunungan, ataupun tepi sungai, selanjutnya ajak mereka untuk mengapresiasi keindahan alam, dan seterusnya.
Terakhir, teknik meditasi sederhana ini bisa ditutup dengan duduk hening selama satu menit. Jika anak-anak sedang gelisah, maka satu menit bisa dipakai guru untuk membacakan puisi singkat sesuai usia mereka.
Afirmasi yang b3ehubungan dengan mengembangkan kebijaksanaan juga sangat membantu.Cobalah untuk menemukan titik kelemahan yang ada dalam diri anak. Misalnya, anak-anak yang sangat suka peremen dan cokelat, yang tidak hanya akan berdampak pada gigi mereka, tapi juga membuat mereka hiperaktif dan gelisah.
Pertama, putarkan video klip yang sangat-sangat singkat, atau media lain, tunjukkan ke seluruh kelas.Tidak perlu menunjuk ke anak tertentu, emskipun Anda tetap dapat secara diam-diam memberi perhatian khusus kepadanya.
Bantulah mereka sadar mengapa makan gula berlebihan tidak membantu; dan hanya akan membahayakan mereka. Jelaskan hal ini secara garis besar dan dengan cara yang mereka dapat pahami. Poinnya harus jelas. Tidak perlu memulai debat atau diskusi panjang lebar.
Setelah itu, ciptakan afirmasi singkat dan nasihati mereka untuk mengulang afirmasi itu tiap kali mereka ingin makan permen lagi.
Misalnya: “HARI INI AKU SUDAH CUKUP MAKAN PERMEN.” Anda bisa menciptakan afirmasi lain serupa, untuk segala situasi.
INGAT, BERKEMBANGNYA KEBIJAKSANAAN selalu diawali dari pola makan yang tepat diet yang bijaksana.
Dengan jumlah supermarket, yang kian bertambah dan godaan mall – belum lagi iklan televise – guru benar-benar menghadapi tantangan besar. Sungguh besar.Tapi, tantangan dapat dihadapi, bahkan dihadapi dengan mudah jika guru pun mulai mempraktekkan diet sehat dan tepat.Energy dari guru semacam itu penuh dengan keajaiban.Tanpa banyak bicara, guru dapat mempengaruhi seluruh kelas secara positif.
Jadilah bijaksana, dan Anda akan menjadi agen kebijaksanaan yang alami, agen kebijaksanaan hidup, agen perilaku bijaksana. Yakinlah!
ENERGI KETIGA ADALAH TINDAKAN – di sini, penekanannya harus pada kebersamaan, dan membangun rasa empati.
Libatkan anka-anak – semua anak – dalam aktivitas pelayanan kelompok seperti mengunjungi panti asuhan, rumah-rumah para lansia, dan seterusnya, sehingga tercipta rasa kebersamaan, dan semangat “Satu untuk semua, dan semua untuk satu”.Aktivitas semacam itu sebaiknya dijadikan kegiatan rutin dan umum bagi semua kelas.
Selama mengunjungi tempat-tempat tersebut, anak-anak mesti dibiasakan melayani, dan tidak sekadar menjadi penonton saja.Penting juga untuk beberapa orangtua diundangn untuk ikut berpartisipasi dalam kunjungan serupa. Partisipasi atau keterlibatan orangtua harus sepenuhnya, mulai dari persiapan makanan dan hal-hal lain yang akan dibagikan kepada pihak yang dikunjungi. Jadi, tidak sekadar hadir saja.
(Gambar: Developing the Power of Creativity
Membangun Daya Kreativitas dengan Meditasi
One Earth School, Bali)
TAMBAHAN SEDIKIT TENTANG “SATU UNTUK SEMUA, DAN SEMUA UNTUK SATU” – para pendidik mesti memahami betul bahwa, “Satu” di sini merujuk pada yang ingin dicapai, tujuan umum, atau maksud yang bermanfaat bagi semua.
Kata ini tidaklah untuk didefenisikan sebagai “Mengikuti Keinginan Anak.” Ini tentang mengikuti nilai-nilai tertentu, dan membuat mereka memahami serta menghargai nilai-nilai tersebut. Mereka harus dibuat menyadari – mengutip contoh seperti “sekitar rumah dan lingkungan yang sehat menjaga semua orang tetap sehat, termasuk dirimu sendiri” – bahwa atas inisiatif mereka sendiri, mereka bisa membuat orang lain sebahagia dan seceria diri mereka sendiri. Saat ada seorang anak yang sakit di Rumah Sakit, kunjungi dia – ajak serta orangtua dan beberapa anak.Berdoa bersama untuk anak ini agar lekas membaik.Ini adalah contoh kecil nilai kemanusiaan yang telah dilupakan oleh system pendidikan sekarang.
(Gambar: Visiting Nursing Home
Berkunjung ke Panti Jompo
One Earth School, Bali)
Renungan 4
Bunga Rampai
“Pendidikan adalah menyalakan pelita pengetahuan,
bukan menjejalkan isi ke dalam kapal.”
Socrates
“Janganlah membiasakan anak mempelajari sesuatu
Melalui paksaan atau kekerasan; tapi arahkan mereka
untuk belajarmenggunakan sesuatu yang menghibur pikiran mereka,
demikian kau mampu mengetahui secara akurat
dan memahami lebih baik kecenderungan
dan kejeniusan masing-masing.”
Plato
“Pendidikan yang hanya mengasah otak dan tidak menyentuh hati
Tidaklah pantas disebut pendidikan.”
Aristotle
“Tua adalah sebutan bagi mereka yang berhenti belajar,
Tidak peduli di usia dua puluh atau delapan puluh.
Awet muda adalah bagi mereka yang senantiasa belajar.”
Henry Ford
“Hiduplah seakan-akan kau mati besok.
Belajarlah seakan-akan kau hidup selamanya.”
Mahatma Gandhi
“Kebijaksanaan bukanlah hasil bersekolah
tapi upaya yang terus menerus untuk memperolehnya.”
Albert Einstein
“Pendidikan adalah paspor menuju masa depan, sedangkan esok
menjadi milik mereka yang mempersiapkan paspornya hari ini.”
Malcom X
“Pendidikan adalah senjata terkuat,
yang bisa kau pakai untuk mengubah dunia.”
Nelson Mandela
“Anak-anak harus diajari untuk berpikir,
bukan apa yang harus dipikir.”
Margaret Mead
“[Anak-anak] tidak mengingat
apa yang coba kamu ajarkan ke mereka.
Mereka mengingat dirimu.
Jim Henson
5
BEBERAPA HAL YANG MENGKHAWATIRKAN
“Tidak ada yang perlu ditakuti di dunia ini.
Hanya dipahami, itulah yang dibutuhkan.”
Marie Curie
Dalam sistem pendidikan saat ini – mengikuti pola umum – guru dan pendidik sibuk sendiri menjejalkan yang disebut-sebut sebagai pengetahuan sesuai standar buku teks ke dalam otak anak.
Lalu, yang pasti, akan ada metode standar yang sama yang diadopsi, tanpa didasarkan pada penelitian, untuk menguji apakah metode yang diadopsi masih relevan, dan jika masih relevan, apakah cocok dengan kelompok usia tertentu yang sedang mereka ajar.
SEBAGAI CONTOH – AMBIL BEBERAPA MAINAN EDUKATIF – Madam Montessori, berdasarkan latar belakang dan pelatihannya di bidang Teosofi, dan pengalamannya mengajar anak-anak di bunker atau tempat perlindungan bawah tanah selama perang dunia – secara bijak telah mengembangkan beberapa mainan edukatif yang cocok untuk masa itu.
Tidak ada yang salah dengan mainan seperti itu, walau, mungkin, tidak semua mainan itu masih cocok untuk keadaan saat ini. Apalagi, dengan adanya video game, gadget, i-pad, dan lainnya – apa yang anak-anak sekarang butuhkan, bukanlah mainan semacam itu. Mereka harus tinggalkan semua mainan dan gadget dan bermain di luar, bermain di halaman – bermain dengan anak-anak lain.
MAINAN EDUKATIF TELAH JADI INDUSTRI, dan sayangnya, ia tidak lagi mampu memberi edukasi secara holistik. Walaupun diberi label permainan “edukatif”, tapi mainan itu tidak lagi mampu mengedukasi anak-anak sebagaimana seharusnya. Mainan itu hanya membuat si anak jadi tidak mandiri, mereka justru tergantung pada hal-hal dan benda luaran, fasilitas luaran.
Apakah mainan dari kayu, plastik, fiber, maupun resin, tidak peduli bahannya; apalagi video game modern dan gadget – jika seorang anak tumbuh menjadi anak yang bergantung padanya, maka tujuan pendidikan, yakni pemberdayaan diri, tidak tercapai.
Seorang anak seharusnya dibiasakan dengan pemberian mainan-mainan yang siap pakai, mereka seharusnya diajari cara membuat mainan mereka sendiri, menciptakan mainan mereka sendiri. Misalnya, membuat kereta dari karton bekas – dan menggunakan kereta itu untuk mengirimkan barang di area tempatnya belajar, di sekitar sekolahnya.
KINI, TENTANG “KETAKUTAN” DAN “BAHAYA” – di masa lampau memang ada para pendidik yang menanamkan ketakutan pada anak-anak untuk menjaga mereka dari apa yang dianggap sebagai bahaya. Bisa apa saja, bisa tentang bahaya orang asing, yang belum dikenal, bahaya saat menyeberang jalan, atau hal-hal lain yang terkait keselamatan anak.
Beberapa penelitian yang menyangkut hal tersebut, sangat jelas mengatakan bahwa menanamkan ketakutan pada anak-anak bukanlah cara yang tepat, jika ingin mengajarkan sesuatu pada mereka. Kita tidak bisa, misalnya, menanamkan rasa takut pada semua orang yang belum dikenalnya, semata-mata untuk mencegah mereka untuk bisa bersikap ramah pada orang baru, kemudian kita merasa dengan mengajarkan itu, kita sudah menjauhkan bahaya dari diri si anak.
Baik orang tua maupun guru mestilah pandai-pandai dalam menyikapi dan mendidik anak-anak.Bantu mereka mengenali mana bahaya bagi diri mereka, agar mereka bisa menghindari bahaya itu; dan sebaliknya.Berkenalan dengan orang baru, jelas-jelas baukan suatu hal yang berbahaya, tapi bermain bersama orang baru dikenal tanpa minta ijin terlebih dulu, baru bisa dianggap menimbulkan bahaya. Hal-hal seperti ini yang mesti dijelaskan dengan cara yang tepat.
Demikian, penjelasan singkat ini adalah bagaimana memunculkan yang terbaik dari anak. Sebagai penutup, baik orangtua dan guru, kita mesti senantiasa ingat adalah kewajiban dan tugas kita untuk terus belajar, untuk senantiasa mempelajari tidak hanya temuan terkini dalam bidang pendidikan dan psikologi, tapi juga tulisan, pemikiran, dan kebijakan filsuf kuno serta para pendidik masa lampau – dan bahwa psikis manusia adalah sebuah keberlanjutan. Psikis manusia mewarisi pengalaman-pengalaman masa lalu dari nenek moyang manusia sebelumnya dan akan senantiasa berkembang, menuju pemekaran.
(Gambar: Kemah Kebersamaan Menuju/Toward Global Harmony
One Earth Integral Education, Yogyakarta)
Om Saha Navavatu |
Saha nau bhunaktu |
Saha viryam karavavahai |
Tejasvi navadhitamastu ma vidvisavahai |
Om Santih Santih Santih ||
Transkreasi
Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita
(Guru dan Murid, dengan kata lain,
Marilah kita belajar bersama);
Semoga Hyang Tunggal senantiasa memelihara kita
(dengan kata lain, biarlah Hyang Tunggal
Menjernihkan pikiran kita);
Semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat
(dan penuh antuasiasme);
Semoga apa yang kita pelajari mencerahkan
Dan tidak menyebabkan permusuhan
(dengan kata lain, jika terjadi kesalahpahaman sekecil atau
sebesar apa pun, marilah kita saling memaafkan tanpa
Menyisakan sakit hati, rasa tersinggung, benci dan dendam);
Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.
(Majalah SARAD No. 85, Mei 2007,
Dikutip keseluruhan)
Memanusiakan Manusia
Tujuan Pendidikan Nasional kita, sesuai bunyi Pasal 3 Undang-Undang (UU) RI nomor 20 tahun 2003, adalah: “…untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
“… beriman dan dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,”— adakah seorang pun di antara kita dapat menjamin dan memastikan dirinya sudah cukup beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa? Adakah seorang pun di antara kita telah memperoleh mandat dari Hyang Maha Esa dan Maha Kuasa mengeluarkan sertifikat semacam itu?
Beriman terhadap siapa?
Terhadap Tuhan.
Bertakwa terhadap siapa?
Terhadap Tuhan.
Maka, siapakah yang harus menilai iman dan takwa seseorang? Jelas, Tuhan juga. Bandingkan tujuan ini dengan visi Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara: “Pengaruh pengajaran itu umumnya memerdekakan manusia atas hidupnya lahir, sedang merdekanya hidup batin itu terdapat dari pendidikan.
“Manusia merdeka yaitu manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung kepada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.
“Maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk perikehidupan bersama ialah memerdekakan manusia sebagai anggauta dari persatuan (rakyat).”
Jika iman dan takwa dijadikan tujuan pendidikan, dan sebuah institusi buatan manusia dianggap layak menilainya, maka jelas-jelas itu merupakan penghinaan terhadap kekuasaan Tuhan.
Ketika saya mendiskusikan hal ini dengan seorang tokoh pendidikan, maka dengan gampang ia menjawab, “Ah, itu hanya formalitas saja. Untuk membungkam kelompok-kelompok agamis. Untuk membuat mereka senang. Yang dimaksud adalah lanjutan dari iman dan takwa: berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Formalitas, basa-basi, membungkam, membuat senang …. Dengan cara inikah kita membahas rancangan undang-undang, kemudian menetapkan sebagai undang-undang? Iman dan takwa memasuki wilayah agama, wilayah Tuhan, maka “Akhlak Mulia” dan lain sebagainya terkalahkan oleh kedua kata tersebut. Bagaimana mendefenisikan kedua kata tadi?
Apakah definisi iman yang sudah baku bagi saudara-saudara kita beragama tertentu, dapat diterima oleh saudara-saudara kita yang beragama lain? Dan, apakah pengertian semua agama tentang takwa sama dan standar?
Perahkah kita berpikir bila iman dan takwa kepada Tuhan harus ditumbuhkembangkan lewat pendidikan, maka kita menempatkan sebuah sistem di atas Tuhan. Sistem itu membantu Tuhan supaya ciptaannya beriman dan bertakwa terhadap-Nya. Sungguh aneh!
Iman dan takwa buah kesadaran, keyakinan yang sudah ada dalam diri setiap manusia. Kesadaran dan keyakinan itu hanya perlu diungkapkan. Dan, pengungkapan itu menjadi tugas agama.
Iman dan takwa, kedua kata ini sungguh indah dan sarat makna, namun penempatannya dalam hal ini salah. Iman dan takwa menuntut kepatuhan. Dan, kepatuhan itu haruslah muncul dari keyakinan karena sadar, bukan paksaan. Menumbuhkembangkan kesadaran inilah yang menjadi tujuan agama.
Saya masih mengutip Ki Hajar: “Dalam pendidikan harus senantiasa diingat, bahwa kemerdekaan itu bersifat tiga macam: berdiri sendiri, tidak tergantung kepada orang lain dan dapat mengatur dirinya sendiri.”
Dengan menjadikan iman dan takwa tujuan pendidikan, dan mengamini peran sebuah institusi untuk menilai keimanan dan ketakwaan seseorang berdasarkan tolok ukur atau standar yang ditentukan oleh sekelompok manusia, maka seorang penguasa dapat menciptakan manusia-manusia yang “patuh”. Janganlah sekali-kali mengharapkan manusia yang “merdeka” lahir dan batin.
Janganlah sekali-kali mengharapkan seorang pembaharu, seorang visioner yang dapat melihat jauh ke depan dari suatu sistem yang merampas kebebasan manusia.
UU Perkawinan kita sudah merampas hak kita untuk menjalin hubungan sesama anak-bangsa yang tidak seagama.UU Pendidikan menciptakan manusia-manusia patuh karena takut.Peraturan-peraturan di beberapa daerah berkiblat pada hukum agama.Sementara para pejabat dan wakil rakyat tertidur lelap, seolah semua sudah berjalan baik.
Tidak, semua tidak baik! Saatnya Bung, Mas, Jeng, Neng, kita bersuara… Bersuara demi kebebasan dan kemerdekaan jiwa anak bangsa.
Memanusiakan manusia, menumbuhkembangkan nilai-nilai perikemanusiaan, membangun budi pekerti semestinya menjadi tujuan pendidikan.
Percaya pada Darwin atau tidak, kita semua lahir dengan warisan awal, yaitu insting-insting hewani. Makan, minum, tidur, seks—inilah warisan dimaksud. Bagaimana melampaui urusan-urusan dalam pengertian tidak terjerat dalam urusan-urusan itu saja—inilah tujuan pendidikan.
Jika para pejabat dan wakil rakyat belum juga memahami hal ini, maka kita pun tidak perlu merengek-rengek dan mengharapkan pemahaman mereka. Perubahan dapat dilakukan sekarang dan saat ini juga, mulai dari lingkup terkecil dan terdekat: Keluarga Anda sendiri. Anda tidak membutuhkan izin, peraturan, maupun perundang-undangan.
Sumber:
- Bringing the Bestin the Child, Memunculkan yang Terbaikdalam Diri Anak
- Memanusiakan Manusia, Majalah SARAD, 85, Mei 2007